Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2013

Banjir vs Prestasi Kerja Gubernur DKI Jakarta

"Apa aja sih kerjanya Gubernur Jakarta?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut kakak saya begitu melihat tayangan televisi tentang banjir Jakarta yang menyebabkan anak sulung saya urung ke Jakarta, Kamis 17 Januari 2013. Tentu saja gugatan tersebut ditujukan pada Gubernur DKI Jakarta sebelum era Bang Jokowi. dok. Masgareng Sucipto/Kamprets Sebagai orang awam, saya setuju pendapatnya. Gubernur DKI Jakarta pra Bang Jokowi bak pemborong/kontraktor rumah mewah yang 'asal membangun'. Tidak mempedulikan pembangunan saluran air (drainase), tidak mempedulikan area disekelilingnya (daerah penyangga), tidak menertibkan perilaku penghuni rumah dalam membuang sampah, abai terhadap tata ruang dan yang paling miris semena-mena mengeksploitasi air tanah dalam tanpa menghiraukan bahwa pembentukan fossil groundwater membutuhkan waktu jutaan tahun lamanya. Jakarta, seperti kita ketahui berada di dataran rendah, dikepung daerah sekelilingnya (Jawa Bar

Iket

tokoh masyrakat hingga tokoh musik, menggunakan iket (dok. Maria Hardayanto) Banyak pihak yang menyayangkan, ketika Rieke-Teten sebagai representasi golongan muda Jawa Barat memilih baju kotak-kotak dalam pilkada Jawa Barat. Karena selain dianggap hanya bentuk plagiasi kampanye Jokowi. Rieke dan Teten juga tidak memahami masyarakat yang akan dipimpinnya. Provinsi DKI Jakarta pimpinan Jokowi jelas berbeda dengan provinsi Jawa Barat. Penduduk DKI Jakarta adalah masyarakat urban yang heterogen. Seorang pendatang di Kota Jakarta tidak serta merta wajib menggunakan bahasa Betawi, beda halnya dengan di tanah Pasundan. Walau dihuni banyak pendatang tapi umumnya mereka mampu berbahasa Sunda, sehingga jangan heran apabila bertemu tukang bakso yang fasih berbahasa Sunda dengan dialek Jawa Tengah karena belum minum ‘jamu peluntur’ … :D Busana khas etnis Sunda adalah baju pangsi dan iket. Iket yang pernah dianggap hanya digunakan masyarakat a

Jokowi vs Pak Ogah

bertaruh nyawa di jalan Belakang Pasar Baru Bandung (dok. Maria Hardayanto) Joko Widodo, si Abang yang sedang naik daun dan dicintai banyak pihak ini rupanya harus bersiap menuai gugatan. Tiga warganya meninggal dunia setelah terperosok dan terjungkal akibat jalanan berlubang. Kakak beradik, Purwanto (tewas) dan Novita (luka berat) pada Selasa, 22 Januari 2013 keduanya terlindas bus bus Transjakarta di ruas Jalan Mayjen Sutoyo, Cawang. Jakarta Timur. Sebelumnya pasangan suami istri Taufik dan Beti meninggal dunia terlindas truk pada Kamis, 17 Januari 2013 , setelah sepeda motornya terjungkal di jalanan berlubang di kawasan yang sama . Selama ini pelaku (supir truk, supir bus) saja yang dituntut pertanggungjawaban, sedangkan pejabat terkait ( menteri PU, gubernur, Kanwil PU, dan Kepala Dinas PU) aman tentram belum pernah tersentuh. Padahal sesuai UU nomor 22 tahun 2009 pasal 273 ayat 1 sampai 3 Undang-Undang

My Green Resolution is Berkebun Sayuran Organik

mentimun (dok. Maria G.Soemitro) Sebetulnya resolusi hijau di tahun 2013 dengan berkebun sayuran organik adalah milik kompasianer @ Christian Natalie . Menjadi profile picture facebooknya, sehingga saya menduga dia tidak main-main. Apalagi manfaat berkebun sayuran organik memang banyak, yaitu: Meningkatkan konsumsi sayuran. Saat ini konsumsi sayuran penduduk Indonesia baru mencapai 80 % dari anjuran sehat gizi sebesar 65,5 kg/kapita/tahun. Konsumsi makanan sehat. Menanam sendiri sayuran akan menjamin bahwa sayuran yang kita konsumsi terbebas residu pestisida yang biasanya masih disemprotkan beberapa hari menjelang panen. Juga terbebas dari kontaminasi air limbah karena sayuran sering ditanam di saluran dekat pabrik atau lahan terlantar dimana bersliweran kendaraan roda empat dan dua. Menyehatkan tubuh karena berkebun berarti juga berolah raga. Hanya dengan berkebun, kita dapat membakar

Konferensi Tunza (Bandung Berkebun 3)

Edukasi di Bandung Berkebun Dalam salah satu tulisannya di Kompasiana, mantan Menteri Riset dan Teknologi Indonesia, Kusmayanto Kadiman mengutarakan idenya untuk memanfaatkan lahan kosong. Diantaranya lahan terbuka yang dikelola PT Jasa Marga dan dibiarkan hanya ditumbuhi rumput. Sayang sekali pak KK tidak aktif di twitter sehingga tidak bertemu dengan Ridwan Kamil yang melihat banyak lahan menganggur lewat Google Earth dan menggagas urban farming. Kolaborasi  dua orang hebat ini pastilah akan mempercepat proses penghijauan kembali lahan menganggur. Karena hanya berbekal 19.600 lebih followers dan aktif bertwitter ria, Ridwan Kamil mampu membangun komunitas Indonesia Berkebun tanpa modal. Setiap follower menyumbang, entah tanah kosong, kompos, bibit, pengetahuan cara bertani organik dan waktu serta tenaga. Para followers tersebut bergabung dengan komunitas berkebun dikotanya masing seperti : Jakarta Berkebun, Bandung Berkebun, Banten Berkebun, Makasar Berkebun

Passwordnya Kreativitas (Bandung Berkebun 2)

Kimi dan Bandung Berkebun Sejauh mana memaknai suatu konsep dan menerapkannya? Agaknya lebih mudah mengucapkan daripada mengerjakannya. Ketika Ridwan Kamil menggagas Indonesia Berkebun dengan memanfaatkan lahan terlantar dan harus memenuhi 3 konsep : Edukasi, Ekologi dan Ekonomi, semua orang pasti menganggapnya mudah. Ternyata mencari lahan terlantar memang mudah tetapi minta izinnya sulit. Maklum pemiliknya entah dimana. Jangankan domisilinya, si pemilik lahanpun bak “tak bernama”. Contohnya lahan di perempatan Cikapayang, jalan Dago Bandung ini. lahan terlantar di jalan Dago (dok. Maria Hardayanto) Lahan yang membuat penampilan jalan Dago tampak kumuh ini menjadi tempat pembuangan sampah. Nama pemiliknya tidak diketahui selain mungkin oleh petugas BPN. Itupun apabila nama pemilik lahan masih tetap, belum ada perubahan. Dua pemilik bangunan disampingnya geleng kepala tidak mengetahui nama pemilik lahan kumuh tersebut. Hanya pemilik toko kue La Be

Urban Stress? Cobalah Berkebun ..........

stress? Sering mengalami tekanan pekerjaan yang membuat stress ? Bingung mencari tempat untuk anak bermain ? Bosan menemani anak ke Timezone atau tempat permainan sejenis ? Atau ingin menghabiskan akhir pekan dengan cara yang menyenangkan ? Mungkin “Indonesia Berkebun” adalah solusinya. anak-anak hanya bisa bermain di mall Indonesia Berkebun digagas oleh Ridwan Kamil sang Winner of International Design Competition  dengan konsep Ekologi, Edukasi dan Ekonomi.  Dimana setiap individu, apakah dia bapak, ibu, anak-anak atau lajang mengambil peran dalam suatu komunitas dan mengisi peran tersebut sesuai kemampuan dan kompetensinya sehingga kegiatan komunitas selalu positif, kekeluargaan dan bermanfaat. Contoh Indonesia Berkebun yang sudah berjalan di  Jakarta yaitu di Grogol dan Springhill.  Bandungpun  sedang merintis  Bandung Berkebun  yang akan mulai tanam pada tanggal 15 Mei 2011. Pelaksanaannya cukup m

Bandung Berkebun (1)

lahan siap tanam (dok. Bandung Berkebun) Memahami sebuah konsep sederhana bukan berarti mudah mengaplikasikannya. Itulah yang terjadi pada Bandung Berkebun. Berawal dari ide Ridwan Kamil tentang Indonesia Berkebun yang telah dilaksanakan di kota Jakarta dan kota besar lainnya. Bandung Berkebun berpegang pada 3 ketentuan yang harus diterapkan  yaitu : 1.     Ekologi 2.    Edukasi 3.    Ekonomi Tidak hanya itu, pendekatanpun perlu dilakukan terhadap warga karena diharapkan mereka mendapat manfaat secara langsung dan ikut berpartisipasi merawat kebun. Selain warga, anak-anak sekolah menjadi prioritas karena tidak banyak sekolah yang mampu menyediakan fasilitas agar anak didiknya mendapat pendidikan lingkungan hidup dengan menyenangkan. Lahan pertama yang dipinjamkan terletak di jalan Sukamulya Indah 6/5 Bandung, suatu kawasan urban kota dimana penduduk urban menempati area cukup luas. Sekitar 500 meter persegi perkeluarga. Sedangkan penduduk pribumi tinggal