Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2013

Esensi Moratorium Hutan

 Tulisan ini meraih juara ketiga Hutan Indonesia Blog Competition :   http://blog.kompasiana.com/2013/04/27/pemenang-hutan-indonesia-blog-competition-550236.html penggundulan hutan (dok. DPKLTS) Begitu banyak musibah terjadi di Indonesia, tetapi bencana banjir dan tanah longsorlah yang paling menyedihkan. Karena penyebabnya kelalaian manusia. Sehingga bisa diprediksi. Bisa dihindarkan. Tapi diabaikan. Ibarat mengetahui pertanda suatu bangunan hampir roboh, tidak ada seorangpun bertindak mengambil langkah penyelamatan. Apalagi membuat perencanaan jangka panjang. Demikian pula penggundulan hutan yang menyebabkan tanah longsor dan banjir. Kearifan lokal memberikan pemahaman bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa hutan. Hutan yang dipenuhi jalinan akar pepohonan membantu mengikat tanah dan menyimpan air. Dedaunan, ranting dan hewan mati membentuk lapisan tanah yang subur. Keaneka ragaman hayati tidak saja memberikan kekayaan alam tetapi juga pasokan oksigen.

#SaveHutanBabakanSiliwangi

“Jika pohon terakhir telah ditebang, ikan terakhir telah ditangkap, maka barulah kita sadar bahwa manusia tidak dapat memakan uang” Ungkapan diatas sungguh mengena, manakala hutan kota Babakan Siliwangi diperjuangkan oleh penggiat lingkungan hidup Bandung sementara walikota Bandung bersikukuh mengizinkan pembangunan rumah makan di area tersebut dengan alasan agar pengunjung hutan kota Babakan Siliwangi bisa makan dan minum di tempat itu.  Keputusan walikota Bandung mungkin merupakan suara berbagai pihak yang berpendapat:”Toh hanya satu bangunan kecil yang menempati area demikian besar”. Tetapi tidak ada asap tanpa api. Sebelum Pemerintah Kota Bandung mengizinkan pembangunan Gedung Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB dan Sarana Olahraha (Sorga), luas hutan kota Babakan Siliwangi adalah 7,1 ha dan kini tersisa 3,8 ha, berbentuk tapal kuda. Babakan Siliwangi bak oase di tengah kota. Tepatnya dulu bernama Lebak Gede yang berarti lembah besar terletak di ant