Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2012

Bincang Lingkungan di Sapa Edu

(SapaEdu : Acara Suara Edukasi Kemendikbud, khusus untuk anak-anak. Setiap hari Senin-Jum’at Pukul 07.00 - 09.00 WIB) Menjadi narasumber seputar lingkungan memang tugas saya sehari-hari, tapi melakukannya untuk acara anak-anak ? Upz ……………nanti dulu, bagaimana tugas yang diinstruksikan panglima IDKita,  Valentino ? Ini dia :  Sebagai  narasumber Sapa Edu - Untuk mengajarkan anak-anak, saat mereka ke sekolah, mereka bisa dengarkan lewat radio, gitu juga para bundanya.Tema “Yuk Peduli Lingkungan”. Sangat berbahagia saya, jika ibu berkenan untuk mengedukasi Bangsa ini melalui Radio resmi Pemerintah Kemen DIKBUD. Anak-anak? Dan terbayanglah saya akan tubuh-tubuh mungil yang aktif. Baik di rumah, di sekolah maupun dalam kendaraan umum/pribadi. Tidak pernah berhenti bergerak, sebentar duduk,  menit berikutnya sudah menggoyang-goyangkan  tubuh atau berlari-lari. Duh, mungkinkah mereka mau mendengarkan obrolan saya dan kak Anggi, penyiar acara Sapa Edu mengenai lingkungan ?

Yuk, Jadi Relawan Program Lingkungan Hidup

kami selalu tertawa dan narcis berfoto-foto (dok. YPBB) Menjadi relawan? Wuaduh ,……….. mungkin  terbayang bencana alam yang datang bertubi-tubi mendera Indonesia dan kita berangkat kesana sebagai relawan. Pasti perlu perjuangan ekstra untuk mencapai daerah bencana. Disana tidak ada air untuk mandi, tidak ada makanan enak. Masakan yang tersedia umumnya berasal dari dapur umum. Atau bahkan mungkin jadwal makan terlewatkan karena sibuk membantu korban bencana alam. Tidurpun dimana saja. Di tenda pengungsian atau mungkin  di rumah penduduk yang masih selamat. Tapi ternyata ada banyak peran relawan yang dapat kita lakukan tanpa harus meninggalkan tugas utama : belajar , bekerja dan khusus untuk saya, menjadi ibu rumah tangga ^-^.  Tidak terbayangkan saya harus berangkat jauh yang mengakibatkan kebutuhan keluarga di rumah terabaikan Porsi relawan yang saya pilih tidak hanya sesuai dengan waktu tetapi juga minat, yaitu seputar lingkungan hidup. Beruntung  di sekitar

Air Dalam Kabut Peradaban

dok. Ajie Nugroho “Bu, minta air yaaaa………… Tangan saya kotor, nih “, pinta seorang ibu seraya mengambil air minum dalam kemasan (AMDK), menyobek tutupnya dan menggunakan AMDK gelas tersebut untuk menyuci tangannya yang kotor. Walau kerap terjadi, penulis tetap mengernyitkan kening melihat pergeseran perilaku tersebut. Hanya karena satu gelas AMDK dapat dibeli dengan uang senilai Rp 500,00 maka manusia menjadi enggan beranjak mencari air bersih untuk mencuci tangan. Tidak si kaya atau si miskin, semua berperilaku sama. Bagaimana mungkin meremehkan AMDK padahal air minum dalam kemasan mengandung biaya lingkungan berupa  jejak ekologis yang tergambar dalam kabut peradaban sebagai berikut: kabut peradaban (dok. http://agungsmail.wordpress.com/2010/01/22/kabut-peradaban-manusia-dan-alam/) Proses awal  terjadinya suatu produk hingga sampai ke tangan konsumen dan berakhir menjadi barang tidak berguna dinamakan kabut peradaban. Banyak pengorbanan yang luput/tidak dika

Wow, Harga Air Dalam Hamburger Lima Juta Rupiah!

Berapa rupiah harga satu hamburger ? Rp 25.000? Rp 50.000? Tanpa kita sadari, setiap hamburger yang kita santap ternyata bernilai lebih mahal. Cara perhitungannya dengan berpedoman  virtual water  di bawah ini: virtual water dok. http://www.sciencemediacentre.co.nz/wp-content/upload/2009/09/virtual-water3.jpg Mengapa? Karena  air merupakan sumber daya yang bersifat terbatas . Sehingga nilai suatu produk harus dihitung berpatokan pada  virtual water  atau perkiraan jumlah air yang diperlukan untuk proses produksi suatu produk pertanian atau  industry. Sehingga apabila kita hitung  berdasarkan  harga air dalam kemasan galon  seharga Rp 11.000/19 liter, maka perhitungannya akan menjadi: Rp 11.000/19 liter x 2.400 liter = Rp 1.389.473,68 Sedangkan perhitungan dalam kemasan gelas akan lebih mahal yaitu: Rp 500/240 mlx 1.000 x 2.400 liter = Rp 4.999.999 atau sekitar lima juta rupiah. Wow, mahal bukan? Memang seharusnya sebesar itulah nilai yang harus kita

Mengapa Harus Banjir di Musim Hujan?

dok. Masgareng Sucipto Krisis air di musim kemarau ; banjir di musim hujan . Adagium baru tersebut seolah tak terpatahkan. Bahkan diterima dengan “legowo” oleh semua pihak. Juga pergeseran musim, ketika nama bulan berakhiran “ber” seharusnya penanda dimulainya musim hujan tetapi bulan September dan Oktober masih memasuki musim kemarau. Sedangkan musim hujan tahun 2012 baru dimulai bulan November dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada bulan Januari dan Februari. Perubahan ini adalah keniscayaan mengingat bumi kini dihuni sekitar 7 milyar manusia yang menyebabkan berbagai konsekuensi yaitu pada kegiatan ekonomi, pangan, perumahan, gaya hidup dan lain-lain. “Justru aneh kalau tidak ada yang berubah”, ujar Zadrach L. Dupe, staf pengajar Program Studi Meteorologi Institut Teknik Bandung (ITB). Tetapi yang menarik dalam penjelasannya adalah:  “Curah hujan mengalami penurunan secara signifikan”.  Penurunan  tersebut dapat terlihat secara signifikan dari grafi

Sindiran Warga Venezia Van Java

Sungai Cidago (dok. Danial Bin Fauzi) Punakawan dalam pagelaran wayang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia  kaya budaya sindiran. Sedangkan ditataran televisi nasional ada banyak acara bermuatan sindiran. Salah satunya adalah acara Sentilan Sentilun yang diperankan Slamet Raharjo dan Butet Kartarejasa yang sering melontarkan sindirin bermakna kritik pedas bagi ketidak adilan yang tengah berlangsung. Tanpa sadar budaya sindiran mewarnai perilaku kita sehari-hari. Ketika hujan deras mengguyur Kota Bandung  dan dengan sekejap jalan Dago dibanjiri air cileuncang (air dari selokan ) yang melimpah hingga mirip bah.  Danial, penggiat Forum Hijau Bandung yang sempat mengabadikan kejadian tersebut menamai fotonya “ Cidago ”. Awalan “ci” yang berarti air biasanya digunakan untuk menamakan sungai seperti : Sungai Ciliwung, sungai Citarum, sungai Cidurian dan Sungai Cikapundung yang membelah Kota Bandung. Kebetulan beberapa hari yang lalu penulis juga terperangkap d