Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2012

Hasil Pemuliaan ITB Kok Diaku Amerika Serikat?

“Neng, pepaya neng……… pepaya asli Thailand neng, dijamin manis”, rayu tukang buah ketika saya tertarik melihat-lihat buah yang dijajakan dalam gerobag buah. “Ah mang, ini mah hasil petani Purwakarta, jangan diaku-aku buah impor dari Thailand atuh, kasihan petaninya”. “Eh si eneng nggak percaya, sueerr neng, ieu mah buah impor dari Thailand. Asli! Manis! Buahnya tebel! Lihat warnanya juga merah. Buah lokal mah tipis, ngga manis dan warnanya kuning atuh neng. Mau tidak mau saya tersenyum. Tidak tahu siapa yang harus disalahkan. Pedagang buah yang meyakini bahwa semua produk impor lebih hebat daripada produk lokal? Atau berbagai pihak yang seharusnya membantu mengkampanyekan pepaya  hasil pemuliaan IPB ? Buah pepaya yang diklaim  buah impor  tersebut memang hasil pemuliaan Prof. Dr. Ir. Sriani Sujiprihati dan rekan-rekannya sesama dosen Ilmu Pertanian Bogor (IPB). Sejak tahun 2001, mereka telah berkeliling ke seluruh Indonesia untuk mengumpulkan berbagai verietas p

Hutan Kota, Butuh Tapi Terabaikan

Taman atau ruang terbuka hijau (RTH) merupakan ruang publik yang  manfaatnya  amat dirasakan oleh warga tetapi diabaikan pemenuhannya oleh pemerintah.  Keberadaan RTH tidak hanya berfungsi menyaring polutan ,  menjaga kelestarian, keserasian dan keseimbangan ekosistem. Tetapi juga  menunjang  meningkatkan kualitas hidup warga, mengurangi tekanan mental dan ajang kreatifitas.   Tapi kenyataannya, r ata-rata kota besar belum mampu mencapai 20% RTH publik total dari luas kawasan . Warga pun b ersaing dengan  tuna wisma  menggunakan RTH untuk  sarana ber olah raga, bersilaturah mi , latihan seni musik, festival kuliner atau hanya sekedar duduk-duduk santai.  Bagi kaum tuna wisma, RTH lambat laun menjadi kawasan yang nyaman untuk tempat melepas penat hingga dijadikan lahan tempat tinggal. Akibatnya ketika dilakukan pembersihan, hal ini malah menjadikan RTH kawasan tertutup untuk warga yang ingin berekreasi di sana seperti di  Taman Maluku , Bandung karena alasan estetika. Gerbang

Siklus Rantai Makanan Buatan

Entah mengapa saya tidak menyukai binatang. Mungkin karena pengalaman tidak menyenangkan semenjak kecil. Misalnya ada ular yang gemar menyambangi rumah kami  yang masih asri di Sukabumi. Sehingga sering dipagi hari kami berteriak-teriak ketakutan karena memergoki ular sedang asyik tidur melingkar di dalam ember.  Atau tentang anjing yang mengancam dengan gigi taring dan gonggongannya. Bahkan kucing yang manis mendapat stigma binatang tak tahu diri karena walau diberi makanan spesial eh tetap loncat ke meja makan untuk mencuri daging ayam. kucing di komunitas @sukamulyaindah (dok. Maria G. Soemitro) Karena itu walau kucing dianggap binatang unyu-unyu, saya tetap sering terheran-heran melihat pecinta kucing yang rela bela-belain membeli makanan khusus padahal dia sendiri harus berhemat. Hingga kehebohan itu datang. Dalam rangka bereksperimen mengolah sampah organis, saya mendapat anjuran  pak Supardiyono Sobirin  agar memanfaatkan  sampah organis sebagai pa