Skip to main content

Posts

Showing posts with the label krisis air

Jangan Buang Limbah Keresekmu, Bisa Jadi Bahan Jalan Aspal Lho

jalan aspal dengan limbah kantung plastik didalamnya (dok mongabay.co.id) Pernah dengar pembangunan jalan aspal dengan campuran limbah plastik? Jika belum, silakan klik video di bawah mengenai inovasi keren ini.  Karena dengan digunakannya limbah plastik dalam pembangunan jalan aspal berarti  Indonesia sudah berhasil menemukan salah satu solusi masalah sampah.  Seperti diketahui sampah plastik kerap menjadi biang kerok, bahkan penyebab dimasukkannya Indonesia sebagai pencemar lautan nomor 2 oleh Jambeck. ( sumber ) Sang pembuat terobosan adalah Balitbang PUPR.  Singkatan dari Badan Penelitian dan Pengembangan, Balitbang PUPR merupakan bagian dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).  Bertepatan  dengan rangkaian Hari Bakti PUPR ke 72, Balitbang PUPR menggelar karya para penelitinya di car free day Dago,  pada Hari Minggu, 19 November 2017. Dengan tema “Ciptakan Lingkungan Sehat dengan Inovasi Balitbang”, acara berlang...

Sejuta Biopori Untuk Antisipasi Banjir di Bandung

  Banjir di jl Pagarsih Kota Bandung tahun 2012 (sumber FB) Bak ritme tahunan yang enggan diakhiri, seiring derasnya hujan, beberapa kota terlanda banjir : Jakarta, Bandung, hingga kota kecil Jepara. Banyak penyebabnya, mulai hilangnya daerah resapan air di kawasan Puncak (KBU dan Lembang di Bandung), alih fungsi lahan basah, eksploitasi air tanah hingga pasangnya air laut.   Untuk mengatasi banjir, para pakar aktif urun rembug. Mulai cara mudah dan mudah hingga proyek prestisius yang membutuhkan anggaran triliunan rupiah. Walikota Bandung, Ridwan Kamil selaku pemegang otoritas Kota Bandung pernah mengajak warganya membuat gerakan sejuta biopori yang dilaksanakan serempak dari tanggal 20 Desember hingga 25 Desember tahun 2013 silam. Progam mudah dan murah yang bisa dilakukan serentak berbekal alat pelubang biopori seharga kurang lebih Rp 300.000. Biopori? Mengapa memilih biopori? Mengapa bukan sumur resapan? Bagaimana mungkin lubang resapan biopori berdiamete...

Krisis Air di Jembrana, Bali

Sulitnya warga Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembarana diakui oleh Direktur Utama (Dirut) PDAM Negara IB Kerta Negara. Menurutnya hal tersebut di sebabkan menurunnya debit air di pegunungan. "Waktu ini saya sempat ke sana, bahkan mengecek hingga ke dalam hutan. Di sana itu air permukaan mengalami penurunan hingga 70% akibat musim kering ini," katanya ketika dihubungi lewat telepon selularnya, Kamis (16/10/2014). Berdasarkan data dari BPBD Jembrana, krisis air bersih kini yang terjadi semenjak 2 bulan belakangan ini terus meluas. Selain di Desa Yehembang, krisis air bersih juga terjadi di dua Desa lainnya, yakni di Desa Wanasari dan Desa Sombang, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. Bahkan data terbaru menunjukkan krisis air bersih juga terjadi di Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo serta Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. (*)

Petani Maros, Bak Pelanduk Diantara 2 Gajah

Mansyur mengeluhkan jatah air terlambat datang ke sawah yang kini kering kerontang. Tahun lalu, dia bisa panen hingga tiga kali setahun, kini hanya dua kali. Foto: Walhyu Chandra Mansyur(60), menatap hamparan sawah dengan perasaan gundah. Meski memasuki musim tanam tetapi air irigasi belum tiba. Berbeda dari biasa, Oktober air irigasi sudah mengalir. Kini, awal Oktober tak ada tanda-tanda air datang. Warga Desa Minasa Baji, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, ini tampak frustasi. Sawah kering kerontang. Hujan tak turun sejak tiga bulan lalu. “Ini kemarau panjang. Tahun lalu tidak seperti ini. Sudah waktu menanam tapi belum ada air. Katanya minggu depan baru ada,” katanya ketika ditemui Mongabay , Kamis (2/10/14). Seharusnya, tahun ini bisa panen tiga kali seperti sebelumnya, namun keterlambatan pembagian air membuat keinginan itu sulit terwujud. Lokasi sawah di ketinggian membuat sulit mendapatkan air dari Bendungan Bontosunggu. Tahun l...

Sampah di Kanal Banjir Barat Semarang

SEMARANG - Kemarau menyebabkan debit air di Kanal Banjir Barat (KBB) Semarang menyusut. Akibatnya, aliran sungai dipenuhi sampah-sampah yang mengendap di dasar sungai. Pantauan KORAN SINDO di lapangan, sampah menumpuk di beberapa titik, terutama di dekat air terjun. Sampah-sampah yang didominasi sampah plastik itu membuat sungai menjadi kumuh. Selain di dalam aliran sungai, sampah juga terlihat berserakan di sepanjang bantaran. Diduga, sampah-sampah tersebut dibuang oleh para pengunjung Kanal Banjir Barat. Tari (26), salah satu pengunjung Kanal Banjir Barat menyayangkan kondisi tersebut. Apalagi, KBB saat ini telah menjadi salah satu ikon wisata air di Kota Semarang. "Harusnya pemkot membersihkan sampah-sampah itu," kata Tari, Senin (22/9/2014). Tari menambahkan, sebenarnya KBB dapat menjadi salah satu wisata yang menarik jika dikelola dengan baik. Ia berharap Pemerintah Kota Semarang rajin membersihkan lokasi itu dan memperbanyak tempat pembuangan sampa...

Saling Bunuh Gara-gara Berebut Air

MAROS - Nahas bagi Husa (42), seorang petani palawija di Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Dia tewas akibat penganiayaan rekannya sendiri menggunakan pacul lantaran berebut air. Sebelumnya, Husa sempat dirawat di rumah sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar selama tiga hari. Lantaran menderita  luka yang cukup parah, nyawa korban tidak bisa diselamatkan. Kejadian berawal saat korban beradu mulut dengan pelaku, Hakibe (40), yang notabene adalah tetangga korban sendiri. Pelaku menuding korban sengaja mengalihkan air ke kebunnya sendiri. Pelaku beralasan saat itu membutuhkan air karena tanaman palawija-nya sudah siap dipanen. Kasubag Humas Polres Maros, M Jumahir, membenarkan peristiwa tersebut. Saat kejadian, di daerah tersebut kekurangan air dan masyarakat sedang menanam palawija yang sudah siap panen. "Motifnya hanya berebut air saja. Pelaku menuduh korban sengaja mengarahkan air ke kebunnya sendiri, dan terjadilah peristiwa itu," ujar...

Suhu Bumi Terpanas Sepanjang Sejarah

Data baru menunjukkan Bumi mengalami suhu paling panas dalam sejarah pada bulan Juni hingga Agustus lalu. Badan peneliti lautan dan atmosfer AS, National Oceanic Atmospheric Administration (NOAA), menyatakan bahwa suhu rata-rata dunia selama tiga bulan tersebut adalah 16,4 derajat celsius. Ini berarti 0,71 derajat Celsius lebih tinggi dari rekor sebelumnya tahun 1998 dan yang tertinggi sejak dilakukan pencatatan suhu tahun 1880. Suhu di laut khususnya memanas pada bulan Agustus, yaitu 0,65 derajat Celsius di atas suhu rata-rata bulan itu dan melebihi rekor yang tercatat bulan Juni. Tahun ini bisa jadi merupakan tahun terpanas bagi bumi. Jika suhu pada empat bulan terakhir juga tinggi, berarti tahun 2014 akan menggantikan tahun 2010 sebagai tahun terpanas dalam sejarah. KTT Perubahan Iklim PBB dijadwalkan berlangsung hari Selasa, di New York, AS untuk mendorong negara-negara dunia guna mencapai kesepakatan iklim baru selambat-lambatnya akhir 2015. ( Sumber: ...

Akibat Pencemaran Air, Balai Benih Ikan Terganggu

(PETUGAS Balai Benih Ikan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon menunjukan benih beberapa jenis ikan yang mereka pijahkan, Kamis (25/9/2014). Masih maraknya industri batu alam yang membuang limbah ke sungai membuat BBI kesulitan memenuhi kebutuhan air yang layak untuk kolam pemijahan, sehingga produktifitas benih menurun sampai 80 persen.) SUMBER, (PRLM).-Tingginya perkembangan industri batu alam di yang masih membuang limbah ke sungai membuat Balai Benih Ikan (BBI) di Desa Dukupuntang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon kesulitan memenuhi kebutuhan air yang layak untuk pemijahan ikan. Akibatnya, produktifitas ikan yang dipijahkan dari tahun ke tahun terus menurun hingga delapan puluh persen. Petugas Pemijah di BBI Dukupuntang, Nasir mengatakan, sejak tujuh tahun lalu industri batu alam di sekitar BBI tumbuh sangat pesat. Sayang pertumbuhan itu tidak disertai kesadaran para pengusaha untuk mengolah limbah mereka dengan baik sebelum membuangnya ke sungai. "S...

Menjelang Krisis Air Di Kota Pekalongan

Awal tahun 2014, air di bak mandi yang bersumber dari sumur di rumah Ayub Khan, di Kelurahan Pringlangu, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, berubah warnanya. Air yang semula jernih telah berubah menjadi  merah tua, berbusa dan baunya sangat menyengat. Ayub Khan bertambah kaget saat melihat ikan-ikan yang ada di kolamnya tiba-tiba mati. Diduga, berubahnya warna air sumur dan matinya ikan-ikan di kolamnya karena tercemar limbah batik serta usaha pencucian jin yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. “Sejak mengetahui air sumur  tercemar limbah, saya tidak berani lagi menggunakan air sumur untuk mandi. Apalagi untuk dikonsumsi sehari-hari. Saya beralih menggunakan air PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum),” terangnya, Kamis (26/6). Di tempat terpisah, sumur-sumur warga di Kelurahan Pabean, Kecamatan Pekalongan Utara, airnya juga berubah warna. “Airnya berasa asin dan warnanya berubah-ubah. Kadang coklat, kadang merah,” tutur Hidayat, salah seorang...

Krisis Air di Purwakarta

REPUBLIKA.CO.ID, PURWAKARTA -- Krisis air di Kabupaten Purwakarta memerlukan solusi jangka panjang jika tak ingin terus menerus berhadapan dengan masalah yang akrab menyapa di musim kemarau itu. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabupaten Purwakarta, Wawan Tarsamana Setiawan mengaku suplai air bersih yang kini dilakukan untuk membantu warga yang kesulitan mendapat air hanya solusi jangka pendek. Berdasarkan laporan Dinas ESDM Purwakarta, saat ini terdapat 12 kecamatan yang menderita krisis air bersih. Di antaranya terdapat kecamatan Tegalwaru, Plered, dan Pondok Salam yang merupakan daerah langganan kekeringan. Pemerintah daerah saat ini masih mengupayakan pengiriman air bersih dengan truk tangki untuk membantu daerah tersebut. Salah satu solusi jangka panjangnya, yakni dengan membuat sumur bor di lokasi-lokasi itu. Tapi, sebelumnya harus dilihat dulu apa di lokasi tersebut terdapat mata air bawah tanah atau tidak," ujar Wawan, Ahad (21/9). W...

Tercemarnya Bahan Baku Air Bersih Untuk DKI Jakarta

Jakarta (Greeners) -  Air baku yang dialirkan ke Jakarta setiap tahunnya semakin tercemar. Sekitar  82 persen pasokan air baku untuk ibukota masih sangat tergantung dari Waduk Jatiluhur, Jawa Barat. Namun, kualitas air yang dialirkan dari Waduk Jatiluhur tersebut semakin berkurang karena tingkat amunia dalam air baku sudah melebihi ambang batas. Jika pada tahun 2010 tingkat amunia hanya sebatas 2,9 miligram perliter, maka pada satu tahun berikutnya kandungannya meningkat hingga 4,8 miligram perliter. Padahal ambang batas yang ditetapkan yakni hanya 1 miligram per liter. Staf Ahli Hubungan Antar Lembaga Perusahaan Daerah (PD) PAM Jaya Wibisono Harisantoso mengungkapkan tingkat amunia pada air baku di Waduk Jatiluhur ke Jakarta setiap tahunnya semakin meningkat. “Kualitas air baku yang kita terima semakin lama semakin buruk. Terlebih dalam perjalanannya, banyak mengalami pencemaran. Karena banyak limbah yang dibuang di aliran Kanal Tarum Barat. Baik dari ...