Skip to main content

Posts

Showing posts with the label sosial budaya

Iket

tokoh masyrakat hingga tokoh musik, menggunakan iket (dok. Maria Hardayanto) Banyak pihak yang menyayangkan, ketika Rieke-Teten sebagai representasi golongan muda Jawa Barat memilih baju kotak-kotak dalam pilkada Jawa Barat. Karena selain dianggap hanya bentuk plagiasi kampanye Jokowi. Rieke dan Teten juga tidak memahami masyarakat yang akan dipimpinnya. Provinsi DKI Jakarta pimpinan Jokowi jelas berbeda dengan provinsi Jawa Barat. Penduduk DKI Jakarta adalah masyarakat urban yang heterogen. Seorang pendatang di Kota Jakarta tidak serta merta wajib menggunakan bahasa Betawi, beda halnya dengan di tanah Pasundan. Walau dihuni banyak pendatang tapi umumnya mereka mampu berbahasa Sunda, sehingga jangan heran apabila bertemu tukang bakso yang fasih berbahasa Sunda dengan dialek Jawa Tengah karena belum minum ‘jamu peluntur’ … :D Busana khas etnis Sunda adalah baju pangsi dan iket. Iket yang pernah dianggap hanya digunakan masyarakat a...

Jokowi vs Pak Ogah

bertaruh nyawa di jalan Belakang Pasar Baru Bandung (dok. Maria Hardayanto) Joko Widodo, si Abang yang sedang naik daun dan dicintai banyak pihak ini rupanya harus bersiap menuai gugatan. Tiga warganya meninggal dunia setelah terperosok dan terjungkal akibat jalanan berlubang. Kakak beradik, Purwanto (tewas) dan Novita (luka berat) pada Selasa, 22 Januari 2013 keduanya terlindas bus bus Transjakarta di ruas Jalan Mayjen Sutoyo, Cawang. Jakarta Timur. Sebelumnya pasangan suami istri Taufik dan Beti meninggal dunia terlindas truk pada Kamis, 17 Januari 2013 , setelah sepeda motornya terjungkal di jalanan berlubang di kawasan yang sama . Selama ini pelaku (supir truk, supir bus) saja yang dituntut pertanggungjawaban, sedangkan pejabat terkait ( menteri PU, gubernur, Kanwil PU, dan Kepala Dinas PU) aman tentram belum pernah tersentuh. Padahal sesuai UU nomor 22 tahun 2009 pasal 273 ayat 1 sampai 3 Undang-Undang ...

Yuk, Jadi Relawan Program Lingkungan Hidup

kami selalu tertawa dan narcis berfoto-foto (dok. YPBB) Menjadi relawan? Wuaduh ,……….. mungkin  terbayang bencana alam yang datang bertubi-tubi mendera Indonesia dan kita berangkat kesana sebagai relawan. Pasti perlu perjuangan ekstra untuk mencapai daerah bencana. Disana tidak ada air untuk mandi, tidak ada makanan enak. Masakan yang tersedia umumnya berasal dari dapur umum. Atau bahkan mungkin jadwal makan terlewatkan karena sibuk membantu korban bencana alam. Tidurpun dimana saja. Di tenda pengungsian atau mungkin  di rumah penduduk yang masih selamat. Tapi ternyata ada banyak peran relawan yang dapat kita lakukan tanpa harus meninggalkan tugas utama : belajar , bekerja dan khusus untuk saya, menjadi ibu rumah tangga ^-^.  Tidak terbayangkan saya harus berangkat jauh yang mengakibatkan kebutuhan keluarga di rumah terabaikan Porsi relawan yang saya pilih tidak hanya sesuai dengan waktu tetapi juga minat, yaitu seputar lingkungan hidup. Beruntu...

Sindiran Warga Venezia Van Java

Sungai Cidago (dok. Danial Bin Fauzi) Punakawan dalam pagelaran wayang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia  kaya budaya sindiran. Sedangkan ditataran televisi nasional ada banyak acara bermuatan sindiran. Salah satunya adalah acara Sentilan Sentilun yang diperankan Slamet Raharjo dan Butet Kartarejasa yang sering melontarkan sindirin bermakna kritik pedas bagi ketidak adilan yang tengah berlangsung. Tanpa sadar budaya sindiran mewarnai perilaku kita sehari-hari. Ketika hujan deras mengguyur Kota Bandung  dan dengan sekejap jalan Dago dibanjiri air cileuncang (air dari selokan ) yang melimpah hingga mirip bah.  Danial, penggiat Forum Hijau Bandung yang sempat mengabadikan kejadian tersebut menamai fotonya “ Cidago ”. Awalan “ci” yang berarti air biasanya digunakan untuk menamakan sungai seperti : Sungai Ciliwung, sungai Citarum, sungai Cidurian dan Sungai Cikapundung yang membelah Kota Bandung. Kebetulan beberapa hari yang lalu penulis juga ...

Bandung Berkebun, Ide Cemerlang yang Tak Mudah Implementasinya

Memahami sebuah konsep sederhana bukan berarti mudah mengaplikasikannya. Itulah yang terjadi pada Bandung Berkebun. Berawal dari ide  Ridwan Kamil  tentang Indonesia Berkebun  yang telah dilaksanakan di kota  Jakarta  dan kota besar lainnya. Bandung Berkebun berpegang pada 3 ketentuan yang harus diterapkan  yaitu : 1.     Ekologi 2.    Edukasi 3.    Ekonomi Tidak hanya itu, pendekatanpun perlu dilakukan terhadap warga karena diharapkan mereka mendapat manfaat secara langsung dan ikut berpartisipasi merawat kebun. Selain warga, anak-anak sekolah menjadi prioritas karena tidak banyak sekolah yang mampu menyediakan fasilitas agar anak didiknya mendapat pendidikan lingkungan hidup dengan menyenangkan. Lahan pertama yang dipinjamkan terletak di jalan Sukamulya Indah 6/5 Bandung, suatu kawasan urban kota dimana penduduk urban menempati area cukup luas. Sekitar 500 meter persegi perkel...

Jakarta Park(ing) Day 16 September 2011, Momentum Pengembalian Kawasan Publik

Sejak kapan ruang publik diselewengkan peruntukannya? Tidak ada yang tahu persis. Tapi pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang tak terkendali  menunjukkan keberpihakan pemerintah pada kaum kapitalis dan membuat pejalan kaki kian tidak dimanusiawikan.  Bahu jalan dan trotoar berubah menjadi tempat parkir kendaraan roda empat serta roda dua. Mereka merasa sah-sah saja karena sudah “membayar”. Hingga jangankan penyandang difabel yang berkursi roda, pejalan kakipun bingung meletakkan kakinya dimana. Padahal sesuai  undang-undang nomor 22 tahun 2009  tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  pasal 25, 44 dan pasal 45 menyatakan  Pemerintah wajib menyediakan jalur pedestrian yang aman dan nyaman bagi pejalan kaki, penyandang difabel dan pengguna jalan usia lanjut. Sedangkan ruang parkir sudah diatur dalam pasal 43 undang-undang nomor 22  tahun 2009 yang menerangkan penyediaan fasilitas Parkir untuk umum hanya dapat diselenggarakan  di luar Ruan...

Budaya ABS

ABS atau Asal Bapak Senang, lazim berlaku pada masa Orde Baru. Pada masa itu dengan tangan dingin dan berbekal feodalisme, pak Harto mencanangkan program “Keluarga Berencana”. Berhasilkah ? Menurut laporan, ya sangat berhasil !! Tapi tahukah pak Harto dan pemirsa yang menonton tayangan keberhasilan program Keluarga Berencana bahwa terjadi keanehan-keanehan yang didisain untuk menunjukkan bahwa program tersebut sukses dan pak Harto tersenyum ? Pada suatu acara yang disiarkan televisi nasional, seorang tetangga yang kebetulan bertubuh subur dan mempunyai 9 orang anak, diinstruksikan pak Camat setempat untuk mengutarakan betapa bahagianya dia karena hanya mempunyai 2 orang anak. Dilain waktu, sebagai pengantin muda yang belum berencana mengikuti program Keluarga Berencana, petugas KB mencatat saya sebagai pemakai spiral (alat kontrasepsi KB), hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa program KB di daerah kami berhasil. Teta...

Derita Anak Sekolah di Provinsi Banten yang Kaya Raya

Hard days to get a school (dok. Arif Budiman Effendi) Tahun 1985, ketika presiden Suharto sedang asyik menebar senyum magisnya, bercerita tentang negaranya yang sedang tinggal landas dan berhasil swadaya pangan. Nun berjarak sekitar 130 km dari istananya, masyarakat Lebak Banten berjibaku dengan ketiadaan listrik, keterbatasan pangan, ketiadaan air bersih, jalan-jalan berlubang seluas kubangan kerbau. Anak-anak Sekolah Dasar (SD) Inpres setempat harus “nyeker” (bertelanjang kaki) atau bersendal jepit dan menempuh jarak jauh untuk tiba di sekolahnya. Dalam rangka riset oralit dan dana bantuan USAID untuk masyarakat, penulis beruntung karena berkesempatan tinggal dirumah 3 guru Inpres yang lokasinya berseberangan dengan sekolah tempat mereka mengajar. 3 guru untuk 6 kelas. Setiap kelas mempunyai murid 10-15 orang siswa. Berseragam merah putih kumal, berbekal sebuah buku yang digulung dan diselipkan di saku kemeja serta pensil yang sudah diraut pendek hingga harus disambung kerta...