Skip to main content

Posts

Esensi Moratorium Hutan

 Tulisan ini meraih juara ketiga Hutan Indonesia Blog Competition :   http://blog.kompasiana.com/2013/04/27/pemenang-hutan-indonesia-blog-competition-550236.html penggundulan hutan (dok. DPKLTS) Begitu banyak musibah terjadi di Indonesia, tetapi bencana banjir dan tanah longsorlah yang paling menyedihkan. Karena penyebabnya kelalaian manusia. Sehingga bisa diprediksi. Bisa dihindarkan. Tapi diabaikan. Ibarat mengetahui pertanda suatu bangunan hampir roboh, tidak ada seorangpun bertindak mengambil langkah penyelamatan. Apalagi membuat perencanaan jangka panjang. Demikian pula penggundulan hutan yang menyebabkan tanah longsor dan banjir. Kearifan lokal memberikan pemahaman bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa hutan. Hutan yang dipenuhi jalinan akar pepohonan membantu mengikat tanah dan menyimpan air. Dedaunan, ranting dan hewan mati membentuk lapisan tanah yang subur. Keaneka ragaman hayati tidak saja memberikan kekayaan alam tetapi juga paso...

#SaveHutanBabakanSiliwangi

“Jika pohon terakhir telah ditebang, ikan terakhir telah ditangkap, maka barulah kita sadar bahwa manusia tidak dapat memakan uang” Ungkapan diatas sungguh mengena, manakala hutan kota Babakan Siliwangi diperjuangkan oleh penggiat lingkungan hidup Bandung sementara walikota Bandung bersikukuh mengizinkan pembangunan rumah makan di area tersebut dengan alasan agar pengunjung hutan kota Babakan Siliwangi bisa makan dan minum di tempat itu.  Keputusan walikota Bandung mungkin merupakan suara berbagai pihak yang berpendapat:”Toh hanya satu bangunan kecil yang menempati area demikian besar”. Tetapi tidak ada asap tanpa api. Sebelum Pemerintah Kota Bandung mengizinkan pembangunan Gedung Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB dan Sarana Olahraha (Sorga), luas hutan kota Babakan Siliwangi adalah 7,1 ha dan kini tersisa 3,8 ha, berbentuk tapal kuda. Babakan Siliwangi bak oase di tengah kota. Tepatnya dulu bernama Lebak Gede yang berarti lembah besar terletak di...

Banjir vs Prestasi Kerja Gubernur DKI Jakarta

"Apa aja sih kerjanya Gubernur Jakarta?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut kakak saya begitu melihat tayangan televisi tentang banjir Jakarta yang menyebabkan anak sulung saya urung ke Jakarta, Kamis 17 Januari 2013. Tentu saja gugatan tersebut ditujukan pada Gubernur DKI Jakarta sebelum era Bang Jokowi. dok. Masgareng Sucipto/Kamprets Sebagai orang awam, saya setuju pendapatnya. Gubernur DKI Jakarta pra Bang Jokowi bak pemborong/kontraktor rumah mewah yang 'asal membangun'. Tidak mempedulikan pembangunan saluran air (drainase), tidak mempedulikan area disekelilingnya (daerah penyangga), tidak menertibkan perilaku penghuni rumah dalam membuang sampah, abai terhadap tata ruang dan yang paling miris semena-mena mengeksploitasi air tanah dalam tanpa menghiraukan bahwa pembentukan fossil groundwater membutuhkan waktu jutaan tahun lamanya. Jakarta, seperti kita ketahui berada di dataran rendah, dikepung daerah sekelilingnya (Jawa Bar...

Iket

tokoh masyrakat hingga tokoh musik, menggunakan iket (dok. Maria Hardayanto) Banyak pihak yang menyayangkan, ketika Rieke-Teten sebagai representasi golongan muda Jawa Barat memilih baju kotak-kotak dalam pilkada Jawa Barat. Karena selain dianggap hanya bentuk plagiasi kampanye Jokowi. Rieke dan Teten juga tidak memahami masyarakat yang akan dipimpinnya. Provinsi DKI Jakarta pimpinan Jokowi jelas berbeda dengan provinsi Jawa Barat. Penduduk DKI Jakarta adalah masyarakat urban yang heterogen. Seorang pendatang di Kota Jakarta tidak serta merta wajib menggunakan bahasa Betawi, beda halnya dengan di tanah Pasundan. Walau dihuni banyak pendatang tapi umumnya mereka mampu berbahasa Sunda, sehingga jangan heran apabila bertemu tukang bakso yang fasih berbahasa Sunda dengan dialek Jawa Tengah karena belum minum ‘jamu peluntur’ … :D Busana khas etnis Sunda adalah baju pangsi dan iket. Iket yang pernah dianggap hanya digunakan masyarakat a...

Jokowi vs Pak Ogah

bertaruh nyawa di jalan Belakang Pasar Baru Bandung (dok. Maria Hardayanto) Joko Widodo, si Abang yang sedang naik daun dan dicintai banyak pihak ini rupanya harus bersiap menuai gugatan. Tiga warganya meninggal dunia setelah terperosok dan terjungkal akibat jalanan berlubang. Kakak beradik, Purwanto (tewas) dan Novita (luka berat) pada Selasa, 22 Januari 2013 keduanya terlindas bus bus Transjakarta di ruas Jalan Mayjen Sutoyo, Cawang. Jakarta Timur. Sebelumnya pasangan suami istri Taufik dan Beti meninggal dunia terlindas truk pada Kamis, 17 Januari 2013 , setelah sepeda motornya terjungkal di jalanan berlubang di kawasan yang sama . Selama ini pelaku (supir truk, supir bus) saja yang dituntut pertanggungjawaban, sedangkan pejabat terkait ( menteri PU, gubernur, Kanwil PU, dan Kepala Dinas PU) aman tentram belum pernah tersentuh. Padahal sesuai UU nomor 22 tahun 2009 pasal 273 ayat 1 sampai 3 Undang-Undang ...

My Green Resolution is Berkebun Sayuran Organik

mentimun (dok. Maria G.Soemitro) Sebetulnya resolusi hijau di tahun 2013 dengan berkebun sayuran organik adalah milik kompasianer @ Christian Natalie . Menjadi profile picture facebooknya, sehingga saya menduga dia tidak main-main. Apalagi manfaat berkebun sayuran organik memang banyak, yaitu: Meningkatkan konsumsi sayuran. Saat ini konsumsi sayuran penduduk Indonesia baru mencapai 80 % dari anjuran sehat gizi sebesar 65,5 kg/kapita/tahun. Konsumsi makanan sehat. Menanam sendiri sayuran akan menjamin bahwa sayuran yang kita konsumsi terbebas residu pestisida yang biasanya masih disemprotkan beberapa hari menjelang panen. Juga terbebas dari kontaminasi air limbah karena sayuran sering ditanam di saluran dekat pabrik atau lahan terlantar dimana bersliweran kendaraan roda empat dan dua. Menyehatkan tubuh karena berkebun berarti juga berolah raga. Hanya dengan berkebun, kita dapat membakar ...

Konferensi Tunza (Bandung Berkebun 3)

Edukasi di Bandung Berkebun Dalam salah satu tulisannya di Kompasiana, mantan Menteri Riset dan Teknologi Indonesia, Kusmayanto Kadiman mengutarakan idenya untuk memanfaatkan lahan kosong. Diantaranya lahan terbuka yang dikelola PT Jasa Marga dan dibiarkan hanya ditumbuhi rumput. Sayang sekali pak KK tidak aktif di twitter sehingga tidak bertemu dengan Ridwan Kamil yang melihat banyak lahan menganggur lewat Google Earth dan menggagas urban farming. Kolaborasi  dua orang hebat ini pastilah akan mempercepat proses penghijauan kembali lahan menganggur. Karena hanya berbekal 19.600 lebih followers dan aktif bertwitter ria, Ridwan Kamil mampu membangun komunitas Indonesia Berkebun tanpa modal. Setiap follower menyumbang, entah tanah kosong, kompos, bibit, pengetahuan cara bertani organik dan waktu serta tenaga. Para followers tersebut bergabung dengan komunitas berkebun dikotanya masing seperti : Jakarta Berkebun, Bandung Berkebun, Banten Berkebun, Makasar Berkeb...