Skip to main content

Dampak Perubahan Iklim Pada Tanaman


Tingkat CO2 di atmosfer yang lebih tinggi dapat mengurangi gizi pada tanaman seperti gandum di Drummond, Idaho. (Foto: Rich Reid, National Geographic Creative)

Berbagai analisis dan prediksi akan dampak perubahan iklim terhadap manusia telah terpapar nyata, seperti kenaikan muka air laut, badai, dan efek kesehatan. Demikian pula pada berbagai hewan.

Bagaimana dengan dampak perubahan iklim pada tanaman, yang tidak dapat berpindah tempat?
Sebelumnya peneliti pun sudah mencoba mengukur risiko yang dialami berbagai spesies akibat pemanasan global yang berlangsung cepat. Spesies-spesies yang ada sekarang ini dipetakan berdasarkan iklim untuk memprediksi yang akan terjadi di masa depan.

Dalam studi terbaru, para peneliti di Center for Environmental Science Lab-University of Maryland dan University of Vermont, AS, melakukan kajian soal ini. Namun, mereka telah mengembangkan pendekatan baru—dari pemodelan komputer digabungkan dengan analisis genetika.

Ternyata, tidak semua spesies tumbuhan bereaksi dengan cara yang sama dalam merespon perubahan iklim yang tengah terjadi.
Peneliti mengambil sampel kode genetik 400 tanaman dari 31 daerah di bagian utara Amerika Utara. Hasilnya, tiap spesies punya cara unik atau berbeda untuk bertahan hidup dalam pemanasan global.
"Saat iklim berubah, organisme punya tiga pilihan: bermigrasi, beradaptasi, atau punah," ujar pemimpin ilmuwan Matthew Fitzpatrick, dari Center for Environmental Science University of Maryland.

Peningkatan adaptasi tanaman terhadap perubahan iklim dipelajari dengan mencari tahu gen mana yang mengendalikan hal tersebut dan bagaimana variasinya antarindividu, dia menjelaskan. Dengan begitu, dapat dilihat seperti apa perubahan iklim memengaruhi keragaman hayati.

Untuk pertama kali, peneliti juga mengidentifikasikan cara tanaman balsam beradaptasi untuk menghadapi iklim yang berubah. Studi mereka terbit dalam Ecology Letters edisi 1 Oktober lalu.
(Sumber: Science Daily)

Comments

Popular posts from this blog

Hari Air Sedunia, Peringatan Kelangkaan Air

source : guardian.ng Berapa lama manusia bisa bertahan tanpa minum? Menurut sumber ,  ternyata manusia hanya mampu bertahan 4-7 hari, tergantung situasi. Beberapa faktor mempengaruhi,  misalnya temperatur.  Manusia yang terjebak dalam suhu dingin bisa bertahan lebih lama karena jumlah air yang dikeluarkan lebih sedikit. Sayangnya, kebutuhan akan air yang begitu vital, berbanding terbalik dengan suplai air. Khususnya dari PDAM,  pihak yang mendapat mandat menyediakan air bersih pada warga masyarakat. Saya misalnya, sering harus begadang karena air dari PDAM baru mengalir pukul 22.00 hingga pukul 2.00 dini hari. Padahal saya sudah ngomel panjang pendek melalui salah satu group facebook yang menfasilitasi keluhan warga Bandung.  Feedback hanya sekedar menanyakan nomor langganan, kemudian senyap. #Duh. Situasi ini membuat saya bertanya: “Bagaimana 10 tahun mendatang? Juga bagaimana kabar air dari kota-kota lain? Saya mengetik “warga mengel...

Ooho, Kemasan Air Minum Yang Bisa Dimakan

Selain tidak efisien, air dalam kemasan menyisakan limbah plastik yang tidak ramah lingkungan. Hal ini meresahkan banyak pihak. Karenanya banyak orang mencari wadah alternatif untuk menampung air. Ooho , salah satu wadah yang lentur dan bisa mengikuti ruang tempatnya ditaruh, tetapi juga dapat dimakan! Ooho adalah temuan inovatif yang terbuat dari lapisan membran tipis yang dapat dimakan. Teknik pembuatannya dengan cara spherifikasi. Teknik gastronomi molekular, suatu cairan yang dijatuhkan ke dalam larutan alginat, yang kemudian membentuk gel pelindung di sekitar cairan tersebut. Ooho juga dibuat dengan brown algae dan kalsium klorida. Teknik ini sebenarnya sudah diperkenalkan pada tahun 1946 oleh Ferran Adria di Barcelona, Spanyol. Pada waktu itu, dari teknik ini ia membuat zaitun yang berbentuk bulat dan sampai sekarang dapat ditemukan pada banyak restoran dari berbagai negara. “Saat ini manusia selalu membuat botol plastik, 80% dari plastik tersebut ternyat...

Mikrohidro, Menunggu Dilirik dan Dimanfaatkan

Indonesia  memiliki potensi air danau dan sungai yang jika seluruhnya dikonversi menjadi energy listrik akan setara dengan 70 GW, tetapi baru sekitar 6 % atau 4,2 GW yang di kelola sedangkan target bauran energy Indonesia pada tahun 2025 berasal dari energy air hanya sebesar 14.516 MW. Tapi sebelum mencapai tahun 2025, penyediaan listrik di Indonesia masih tergolong rendah. Secara nasional, rasio elektrifikasi baru mencapai 66 % (ESDM,2009) artinya baru sekitar 66 % penduduk Indonesia menikmati energy listrik dan Jawa Barat yang berpenduduk seperlima dari total penduduk Indonesia baru 64 %nya  menikmati energy listrik. Salah satu alasan yang sering mengemuka adalah lokasi pedesaan yang tersebar dengan kondisi geografis yang tidak mendukung serta sebaran penduduk yang tidak merata menyebabkan pembangunan infrastruktur listrik tidak efektif. Dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) bisa menjadi solusi bagi daerah pelosok yang mempunyai sumber daya ala...