Skip to main content

Apa Penyebab Suhu Di Kota Besar Semakin Meningkat?



Peta menunjukkan perkembangan El Nino tahun 1997 (kiri) dan 2014 (kanan). Arsiran kecokelatan menunjukkan wilayah dengan perairan lebih hangat dan muka air laut lebih tinggi. Warna kebiruan menunjukkan perairan yang lebih dingin. Warna putih menunjukkan perairan dengan suhu normal. (Kredit: NASA)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa suhu udara di wilayah Jakarta dan Bekasi pada Sabtu (11/10) memang hampir mencapai 40 derajat celsius. Persisnya antara 38 dan 39 derajat celsius.

Konfirmasi tersebut disampaikan Dodo Gunawan, Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG, kepada Kompas.com, Sabtu ini, menyusul sejumlah keluhan pengguna media sosial Facebook dan Twitter tentang panasnya udara di dua kota tersebut.

Dodo mengungkapkan, suhu di kota-kota seperti Jakarta dan Bekasi memang semakin meningkat. "Sebelumnya, suhu di Jakarta dan sekitarnya maksimum 35-37 derajat celsius," kata Dodo.

Dodo menyebut, salah satu penyebab peningkatan adalah emisi gas rumah kaca yang tinggi secara global. "Akibatnya, pemanasan global, perubahan iklim. Jadi, suhu memang meningkat," ujarnya.

Faktor lainnya adalah pembangunan perkotaan di Jakarta, Bekasi, dan wilayah sekitarnya yang makin masif sehingga menyisakan sedikit ruang terbuka hijau. Ini menyebabkan fenomena urban heat island.

Urban heat island didefinisikan sebagai peningkatan suhu di wilayah-wilayah metropolitan akibat aktivitas manusia, meliputi pembangunan, penggunaan kendaraan bermotor yang tak ramah lingkungan, serta faktor lain.

"Ada perubahan land use. Sekarang kota dipenuhi beton. Makhluk hidup cenderung menyerap panas, tetapi aspal, beton, memantulkan panas Matahari. Akibatnya, udara menjadi panas."

Agar warga kota seperti Jakarta dan Bekasi bisa kembali merasakan kesejukan, solusinya jelas, perlu perubahan dalam gaya hidup dan pembangunan yang lebih ramah lingkungan. Jika tidak, maka Jakarta dan sekitarnya bisa semakin panas.
(Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com)

Comments

Popular posts from this blog

Hari Air Sedunia, Peringatan Kelangkaan Air

source : guardian.ng Berapa lama manusia bisa bertahan tanpa minum? Menurut sumber ,  ternyata manusia hanya mampu bertahan 4-7 hari, tergantung situasi. Beberapa faktor mempengaruhi,  misalnya temperatur.  Manusia yang terjebak dalam suhu dingin bisa bertahan lebih lama karena jumlah air yang dikeluarkan lebih sedikit. Sayangnya, kebutuhan akan air yang begitu vital, berbanding terbalik dengan suplai air. Khususnya dari PDAM,  pihak yang mendapat mandat menyediakan air bersih pada warga masyarakat. Saya misalnya, sering harus begadang karena air dari PDAM baru mengalir pukul 22.00 hingga pukul 2.00 dini hari. Padahal saya sudah ngomel panjang pendek melalui salah satu group facebook yang menfasilitasi keluhan warga Bandung.  Feedback hanya sekedar menanyakan nomor langganan, kemudian senyap. #Duh. Situasi ini membuat saya bertanya: “Bagaimana 10 tahun mendatang? Juga bagaimana kabar air dari kota-kota lain? Saya mengetik “warga mengel...

Bauran Energi 25-25, Strategi Indonesia Hadapi Krisis Energi

bauran energi 2025 Aksi protes pro demokrasi  di berbagai negara Arab menyusul mundurnya presiden Tunisia dan Mesir mengakibatkan harga minyak dunia melesat diatas US $104 per barel . Harga yang relative sulit turun mengingat situasi yang makin memanas. Iran berupaya mengirim kapal-kapal angkatan laut ke kawasan Mediterania dan Pemimpin Libya, Muammar Khadafi memerintahkan mengganggu ekspor minyak Libya dengan menghancurkan pipa ke Mediterania Tertanggal 23 Februari 2011, Libya menyatakan force majeur dan efektif membatalkan kontrak minyak. Padahal Libya merupakan pemilik cadangan minyak terbesar di Afrika sebesar 42 miliar barel dan menjadi produsen ke empat terbesar di Afrika dengan produksi 1,8 juta barel per hari. Sedangkan Bahrain, Yaman, Aljazair, Libya dan Iran - mewakili sepuluh persen dari produksi minyak mentah dunia,” Tanpa tragedy dan ketegangan yang meningkat di Timur Tengah dan Afrika Utara, para...

Ooho, Kemasan Air Minum Yang Bisa Dimakan

Selain tidak efisien, air dalam kemasan menyisakan limbah plastik yang tidak ramah lingkungan. Hal ini meresahkan banyak pihak. Karenanya banyak orang mencari wadah alternatif untuk menampung air. Ooho , salah satu wadah yang lentur dan bisa mengikuti ruang tempatnya ditaruh, tetapi juga dapat dimakan! Ooho adalah temuan inovatif yang terbuat dari lapisan membran tipis yang dapat dimakan. Teknik pembuatannya dengan cara spherifikasi. Teknik gastronomi molekular, suatu cairan yang dijatuhkan ke dalam larutan alginat, yang kemudian membentuk gel pelindung di sekitar cairan tersebut. Ooho juga dibuat dengan brown algae dan kalsium klorida. Teknik ini sebenarnya sudah diperkenalkan pada tahun 1946 oleh Ferran Adria di Barcelona, Spanyol. Pada waktu itu, dari teknik ini ia membuat zaitun yang berbentuk bulat dan sampai sekarang dapat ditemukan pada banyak restoran dari berbagai negara. “Saat ini manusia selalu membuat botol plastik, 80% dari plastik tersebut ternyat...