Skip to main content

Urban Stress? Cobalah Berkebun ..........


13002837791165840762
stress?

Sering mengalami tekanan pekerjaan yang membuat stress ? Bingung mencari tempat untuk anak bermain ? Bosan menemani anak ke Timezone atau tempat permainan sejenis ? Atau ingin menghabiskan akhir pekan dengan cara yang menyenangkan ? Mungkin “Indonesia Berkebun” adalah solusinya.
13002846011635650159
anak-anak hanya bisa bermain di mall

Indonesia Berkebun digagas oleh Ridwan Kamil sang Winner of International Design Competition  dengan konsep Ekologi, Edukasi dan Ekonomi.  Dimana setiap individu, apakah dia bapak, ibu, anak-anak atau lajang mengambil peran dalam suatu komunitas dan mengisi peran tersebut sesuai kemampuan dan kompetensinya sehingga kegiatan komunitas selalu positif, kekeluargaan dan bermanfaat.

Contoh Indonesia Berkebun yang sudah berjalan di  Jakarta yaitu di Grogol dan Springhill.  Bandungpun  sedang merintis  Bandung Berkebun yang akan mulai tanam pada tanggal 15 Mei 2011.
Pelaksanaannya cukup mudah, mungkin melalui obrolan dengan teman sekantor, teman sekolah atau jejaring sosial seperti twitter dan facebook akan diketemukan lahan tidur yang menganggur karena pemiliknya belum punya ide atau dana untuk membangun.

Jumlah anggotanya?  Suka-suka!  Sesuai kesepakatan. Demikian juga dana awal yang dibutuhkan untuk menggarap tanah yang semula pastinya tidak terawat sehingga membutuhkan pekerja khusus. Tetapi dengan berjalannya waktu, penyandang dana khusus mungkin tidak dibutuhkan karena akan tercukupi dari iuran  anggota. Iuran anggota tersebut dibutuhkan untuk menggaji tukang (dinamakan perawat kebun) yang bertugas merawat kebun sehari-hari, misalnya menyiram tanaman atau merawat tanaman ketika pada waktunya berkebun anggota komunitas tertentu berhalangan hadir.

Skema urban farming dari Indonesia Berkebun sebagai berikut :
13002827932139794404
  • Sponsor : Pemberi pinjaman lahan dan / atau Pemberi dana untuk penggarapan tanah awal, pembelian benih, alat-alat berkebun (sesuai kesepakatan)

  • Wali Kebun : Individu yang bertanggungjawab sebagai kordinator. Orang tersebut mempunyai kompetensi di bidang pertanian maupun tidak . Ya, namanya juga komunitas, pemilihan wali kebun benar-benar demokratis karena dia tidak digaji (istilah kerennya : social worker).

  • Perawat kebun. Seorang pekerja (bisa paruh waktu) yang bertugas menjaga lahan. Khususnya ketika lahan baru ditanami sehingga membutuhkan perhatian ekstra.

  • Komunitas. Suatu keluarga utuh maupun lajang yang mempunyai kepedulian berkebun tetapi tidak mempunyai lahan di pekarangannya.
Indonesia Berkebun harus memenuhi 3 konsep yaitu :

1.    Ekologi.  Mungkin ingatan  anak-anak mengenai  bermacam-macam bentuk  daun, berbagai jenis akar, nama bunga dan bagian-bagiannya, nama buah dan bagian-bagiannya hanya sebatas hafalan di Sekolah Dasar. Tetapi apa  manfaat cacing yang hidup di tanah dan rantai makanan yang terjadi mungkin mereka lupa. Bahkan jangan-jangan mereka berpikir bahwa sudah seharusnya burung hidup di dalam sangkar !

2.    Edukasi. Selain pelajaran biologi diatas, anggota komunitas juga bisa menamai kavlingnya  berdasarkan nama kota, nama pulau atau nama negara. Sehingga ketika si anak A (misalnya mempunyai kavling Pulau Jawa) kemudian  pergi ke kavling temannya B (Pulau Sumatera), dia akan menemui plang tulisan  berisi nama kota lain atau nama sungai , nama danau atau bahkan nama selat  yang harus dilewati ketika seseorang menyeberang pulau.

3.    Ekonomi. Merujuk pada hasil akhir berkebun yang sukses, pastinya panen akan berlimpah  apabila dibawa pulang ke rumah. Karena itu mungkin pembicaraan awal berupa perbedaan jenis tanaman disetiap kavling akan sangat berguna. Kalaupun tetap berlebih, hasil panen bisa dijual dengan dititipkan  pada tukang sayur.

Sebetulnya banyak individu yang sudah mempraktekkan urban farming, diantaranya Bapak Solihin GP (mantan Gubernur Jabar), Bapak Supardiyono Sobirin ( pakar  DPKLTS yang mempunyai workshop di jalan Alfa nomor 92 Bandung dan terkenal dengan blognya Sampah diolah menjadi berkah, Bapak Mubyar Purwasasmita, Ketua Harian DPKLTS dan pengajar Tehnik Kimia ITB yang  tidak pernah lelah memberi penyuluhan bagi yang mau bertanam padi dengan metode  SRI (System of Rice Intensification) dan terbaru adalah Bapak Iwan Sulanjana (mantan Pangdam III Siliwangi) yang ditengah kesibukannya meluangkan waktu bereksperiman menanam padi dengan metode SRI dengan menggunakan kantung plastik (kresek) bekas sebagai pengganti polybag.

DPKLTS dan Bapak Mubyar Purwasasmita menerbitkan buku tentang urban farming karena paradigma lama masih melekat dimana tanah harus diberi pupuk NPK yang harus dibeli di toko pertanian. Kemudian tanaman harus disemprot pestisida beracun  untuk mengusir hama.

Padahal semua kegiatan kebutuhan berkebun dapat ditemukan disekeliling kita. Tanpa mengeluarkan dana ekstra. Misalnya campuran air beras dan terasi bisa menjadi mikroorganisme lokal yang mengaktifkan tanah (semacam EM4 yang dijual di pasaran, tapi tidak dianjurkan dengan berbagai pertimbangan). Pupuk cair dan kompos pun bisa dibuat sendiri sehingga anggota komunitas tidak usah membeli, bahkan anak-anak bisa belajar proses kimia dan lingkungan hidup secara langsung.

Untuk mengusir hama tanaman ? Ada ! Mulai dari tembakau, jambe, hingga daun tomat, cabe dan bawang putih.

Hasilnya ? Tanaman yang sehat (sering juga disebut tanaman organik) dan panen dua kali lebih banyak dari biasanya. Yang pasti, anak-anak bisa bermain dengan leluasa tanpa takut terpapar pestisida yang beracun.

Ada keunggulan lain dari berkebun yaitu berolah raga. Hanya dengan berkebun, kita dapat membakar 63 kalori per 10 menit. Padahal kegiatan berkebun  seperti memangkas tanaman, membersihkan gulma, menyiram tanaman dan memberi pupuk, jarang menghabiskan waktu hanya 10 menit. Minimal 1 jam kita gunakan untuk berkebun, itu artinya kita sudah membakar 378 kalori.
Berkebun, selain menjadi kegiatan relaksasi juga dapat melatih otot-otot kedua lengan,pinggang  punggung dan bagian paha menjadi kuat serta meregangkan otot-otot panggul.

Jadi, tunggu apalagi ? Segera hubungi rekan-rekan yang mungkin tertarik dengan ide Indonesia Berkebun. Tidak usah sungkan karena Ridwan Kamil tidak menetapkan system franchise untuk gagasannya.

Sumber :
  • Ridwan Kamil

  • DPKLTS

Comments

Popular posts from this blog

Hari Air Sedunia, Peringatan Kelangkaan Air

source : guardian.ng Berapa lama manusia bisa bertahan tanpa minum? Menurut sumber ,  ternyata manusia hanya mampu bertahan 4-7 hari, tergantung situasi. Beberapa faktor mempengaruhi,  misalnya temperatur.  Manusia yang terjebak dalam suhu dingin bisa bertahan lebih lama karena jumlah air yang dikeluarkan lebih sedikit. Sayangnya, kebutuhan akan air yang begitu vital, berbanding terbalik dengan suplai air. Khususnya dari PDAM,  pihak yang mendapat mandat menyediakan air bersih pada warga masyarakat. Saya misalnya, sering harus begadang karena air dari PDAM baru mengalir pukul 22.00 hingga pukul 2.00 dini hari. Padahal saya sudah ngomel panjang pendek melalui salah satu group facebook yang menfasilitasi keluhan warga Bandung.  Feedback hanya sekedar menanyakan nomor langganan, kemudian senyap. #Duh. Situasi ini membuat saya bertanya: “Bagaimana 10 tahun mendatang? Juga bagaimana kabar air dari kota-kota lain? Saya mengetik “warga mengel...

Ooho, Kemasan Air Minum Yang Bisa Dimakan

Selain tidak efisien, air dalam kemasan menyisakan limbah plastik yang tidak ramah lingkungan. Hal ini meresahkan banyak pihak. Karenanya banyak orang mencari wadah alternatif untuk menampung air. Ooho , salah satu wadah yang lentur dan bisa mengikuti ruang tempatnya ditaruh, tetapi juga dapat dimakan! Ooho adalah temuan inovatif yang terbuat dari lapisan membran tipis yang dapat dimakan. Teknik pembuatannya dengan cara spherifikasi. Teknik gastronomi molekular, suatu cairan yang dijatuhkan ke dalam larutan alginat, yang kemudian membentuk gel pelindung di sekitar cairan tersebut. Ooho juga dibuat dengan brown algae dan kalsium klorida. Teknik ini sebenarnya sudah diperkenalkan pada tahun 1946 oleh Ferran Adria di Barcelona, Spanyol. Pada waktu itu, dari teknik ini ia membuat zaitun yang berbentuk bulat dan sampai sekarang dapat ditemukan pada banyak restoran dari berbagai negara. “Saat ini manusia selalu membuat botol plastik, 80% dari plastik tersebut ternyat...

Mikrohidro, Menunggu Dilirik dan Dimanfaatkan

Indonesia  memiliki potensi air danau dan sungai yang jika seluruhnya dikonversi menjadi energy listrik akan setara dengan 70 GW, tetapi baru sekitar 6 % atau 4,2 GW yang di kelola sedangkan target bauran energy Indonesia pada tahun 2025 berasal dari energy air hanya sebesar 14.516 MW. Tapi sebelum mencapai tahun 2025, penyediaan listrik di Indonesia masih tergolong rendah. Secara nasional, rasio elektrifikasi baru mencapai 66 % (ESDM,2009) artinya baru sekitar 66 % penduduk Indonesia menikmati energy listrik dan Jawa Barat yang berpenduduk seperlima dari total penduduk Indonesia baru 64 %nya  menikmati energy listrik. Salah satu alasan yang sering mengemuka adalah lokasi pedesaan yang tersebar dengan kondisi geografis yang tidak mendukung serta sebaran penduduk yang tidak merata menyebabkan pembangunan infrastruktur listrik tidak efektif. Dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) bisa menjadi solusi bagi daerah pelosok yang mempunyai sumber daya ala...