Skip to main content

Banjir dan Kepedulian Sosial


1326300806278144291


Banjir di jl Dr Junjunan, Bandung (dok. Gin Gin Ginanjar Noor)
“Salah urus!” umpat beberapa akun facebook ketika mendapat kiriman gambar banjir  diatas.

Mengumpat, menjadi kebiasaan kronis yang sering dilakukan. Apalagi melihat banjir di pintu gerbang Bandung, jalan Dr Junjunan (Terusan Pasteur) pada tanggal 14 Desember 2011 silam yang mengakibatkan beberapa kendaraan harus “berenang” dan menyisakan “malu!”

Tetapi apakah banjir setinggi 3 meter bisa terselesaikan dengan kata malu?
Sementara DPRD kota Bandung dan pemkot saling berdebat. Ketua Komisi C DPRD kota Bandung Entang Suryawaman mengatakan bahwa pemkot Bandung harus membangun saluran air lebih lebar selain mengeruk sedimentasi bercampur sampah pada sungai yang mengalir melintasi jalan Dr Junjunan. Sementara Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda menyindir jumlah anggaran yang minim dan lebih mementingkan  belanja hibah, bantuan sosial dan perjalanan dinas.

Pernyataan kedua pejabat tersebut tidak sepenuhnya salah. Menurut pengamat lingkungan,Supardiyono Sobirin sejak tahun 2000-an hanya 10 % air hujan yang berhasil kembali ke tanah, sisanya 90 % mengalir ke drainase yang tidak pernah bertambah jumlahnya semenjak tahun 1960-an sehingga melimpas kemana-mana mengakibatkan banjir perkotaan. Koefisien perbandingan luas dasar bangunan terhadap luas lahan kota Bandung telah melampaui zonasi penataan ruang maksimal 75 %.

Masalah pembangunan drainase memang bukan ranah masyarakat. Tetapi setiap anggota masyarakat bisa berkontribusi meminimalisir banjir suatu daerah atau sebaliknya malah memperparah. Dibawah ini denah jalan Dr Junjunan, khususnya daerah Bandung Trade Centre (BTC) daerah yang paling parah dilanda banjir.
13263014011620581745
Bersebelahan dengan jalan Sukamulya mengalir anak sungai yang menimbulkan segudang masalah diantaranya bangunan penduduk yang membelakangi sungai sehingga mereka merasa sah-sah saja dengan anggapan bahwa sungai adalah tempat sampah massal.
1326301837832993973
aliran air sungai, air melimpah dari sini membawa sampah
Kebetulan lokasi tersebut tidak jauh dari lokasi Bandung Berkebun dan lokasi komunitas @sukamulyaindah, suatu komunitas yang penulis dampingi setahun terakhir.

Tapi berbeda jauh dengan daerah diseberangnya yang selalu bergemuruh dengan air sungai ketika hujan turun.  Daerah domisili komunitas @sukamulyaindah mengalami krisis air. Air hujan yang melimpah ke dalam sungai yang kotor memang berbeda dengan air bersih yang diperlukan komunitas @sukamulyaindah tetapi apabila daerah di sepanjang sukamulya mau membuat sumur resapan atau minimal lubang resapan biopori (LRB) maka air hujan yang mengalir ke sungai dan drainase tidak akan mengakibatkan banjir di jalan Dr Junjunan  separah itu.

Apabila dipilah kasus perkasus, maka penyelesaiannya sebagai berikut:
  • Sampah. Sampah merupakan masalah kompleks yang membutuhkan sinergi banyak pihak. Mulai dari si pembuang sampah yang “semau gue”. Tukang sampah yang mengumpulkan sampah tapi kemudian “tega” membuang sampah ke sungai. Hati kecil si tukang sampah pasti tahu bahwa tindakannya akan menyebabkan banjir. Tetapi apa boleh buat, PD Kebersihan hanya sigap menarik uang iuran tapi ogah-ogahan mengosongkan container sampah padahal tukang sampah sebagai ujung tombak dikejar deadline karena hari berikutnya harus mengangkut sampah dari rumah ke rumah. Pemberlakuan sanksi bagi pembuang sampah harusnya bisa dilakukan Satpol PP, minimal sebagaishock therapy karena ada rambu hukum yaitu Perda K3 Kota Bandung. Selain itu mulai menerapkan tarif retribusi baru apabila PD Kebersihan “merasa” pemasukan retribusi tarif lama terlalu rendah. Karena penggodokan tarif baru sudah dikerjakan LPM Universitas Pajajaran lebih dari setahun yang lalu.

  • Posisi rumah yang membelakangi aliran sungai juga berpotensi menggampangkan masalah sampah. Hanya dengan membuang sampah lewat pintu belakang:”plung!” ……..selesailah masalah sampah! Tidak terlihat mata! Umumnya bangunan dihuni penduduk urban/pendatang. Karena penduduk asli memiliki lahan cukup sehingga enggan membangun rumah di tepi sungai. Kalaupun dia membangun rumah di tepi sungai biasanya dibangun untuk disewakan bagi kaum pendatang. Solusinya hanya satu. Tindakan tegas. Memindahkan penduduk yang umumnya tidak mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) ini ke rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang tidak terletak di tepi sungai. Karena Daerah Aliran Sungai (DAS) sebetulnya merupakan daerah terlarang untuk bangunan permanen.

  • Pembangunan sumur resapan dan LRB. Ironisnya berseberangan dengan daerah aliran sungai tersebut, daerahnya mengalami krisis air. Sehingga sudah menjadi pemandangan umum apabila antar rumah meminta air sumur dengan menggunakan slang atau ember. Salah satu RW dari area tersebut membentuk suatu perkumpulan ibu-ibu rumah tangga bernama komunitas @sukamulyaindah. Berbekal keinginan ingin keluar dari masalah krisis air dan ingin berkegiatan positif, mereka berkumpul setiap minggu untuk belajar memisah sampah, menggunakan kotak takakura, membuat lubang resapan biopori (LRB) dan meminimalisir sampah plastik dengan mengumpulkannya dan membuat kerajinan.
Banyak pertanyaan terlontar, mengapa perilaku masyarakat Indonesia berubah?

Kemana perginya kearifan local, gotong royong dan kepedulian social? Ada banyak jawaban. Tetapi yang terutama adalah adanya kesenjangan. Kesenjangan antara anggota masyarakat yang dengan mudahnya menumpuk gelar kesarjanaan ketika anggota masyarakat lainnya tidak sanggup menyelesaikan sekolah dasarnya. Antara si kaya dan si miskin.
Masing-masing asyik dengan dunianya. Ditengah itu ada para birokrat yang asyik juga merumuskan perundang-undangan dan penggunaan uang APBD. Hal mana sering menyebabkan masyarakat grass root bersikap skeptis karena merasa tidak diperlakukan dengan adil. Mereka merasa memiliki tanah air Indonesia ini tetapi sekaligus merasa tidak memiliki. Merasa bangga sekaligus tidak peduli. Semuanya berakhir pada satu rasa: Merasa asing di rumah sendiri!

Dan apakah yang terjadi pada rumah yang tidak dipedulikan pemiliknya?

**Maria Hardayanto**

tulisan terkait :
132630363427625235113263037091921675572

13263037522080324485
1326304361818330661

Comments

Popular posts from this blog

Hari Air Sedunia, Peringatan Kelangkaan Air

source : guardian.ng Berapa lama manusia bisa bertahan tanpa minum? Menurut sumber ,  ternyata manusia hanya mampu bertahan 4-7 hari, tergantung situasi. Beberapa faktor mempengaruhi,  misalnya temperatur.  Manusia yang terjebak dalam suhu dingin bisa bertahan lebih lama karena jumlah air yang dikeluarkan lebih sedikit. Sayangnya, kebutuhan akan air yang begitu vital, berbanding terbalik dengan suplai air. Khususnya dari PDAM,  pihak yang mendapat mandat menyediakan air bersih pada warga masyarakat. Saya misalnya, sering harus begadang karena air dari PDAM baru mengalir pukul 22.00 hingga pukul 2.00 dini hari. Padahal saya sudah ngomel panjang pendek melalui salah satu group facebook yang menfasilitasi keluhan warga Bandung.  Feedback hanya sekedar menanyakan nomor langganan, kemudian senyap. #Duh. Situasi ini membuat saya bertanya: “Bagaimana 10 tahun mendatang? Juga bagaimana kabar air dari kota-kota lain? Saya mengetik “warga mengel...

Ooho, Kemasan Air Minum Yang Bisa Dimakan

Selain tidak efisien, air dalam kemasan menyisakan limbah plastik yang tidak ramah lingkungan. Hal ini meresahkan banyak pihak. Karenanya banyak orang mencari wadah alternatif untuk menampung air. Ooho , salah satu wadah yang lentur dan bisa mengikuti ruang tempatnya ditaruh, tetapi juga dapat dimakan! Ooho adalah temuan inovatif yang terbuat dari lapisan membran tipis yang dapat dimakan. Teknik pembuatannya dengan cara spherifikasi. Teknik gastronomi molekular, suatu cairan yang dijatuhkan ke dalam larutan alginat, yang kemudian membentuk gel pelindung di sekitar cairan tersebut. Ooho juga dibuat dengan brown algae dan kalsium klorida. Teknik ini sebenarnya sudah diperkenalkan pada tahun 1946 oleh Ferran Adria di Barcelona, Spanyol. Pada waktu itu, dari teknik ini ia membuat zaitun yang berbentuk bulat dan sampai sekarang dapat ditemukan pada banyak restoran dari berbagai negara. “Saat ini manusia selalu membuat botol plastik, 80% dari plastik tersebut ternyat...

Mikrohidro, Menunggu Dilirik dan Dimanfaatkan

Indonesia  memiliki potensi air danau dan sungai yang jika seluruhnya dikonversi menjadi energy listrik akan setara dengan 70 GW, tetapi baru sekitar 6 % atau 4,2 GW yang di kelola sedangkan target bauran energy Indonesia pada tahun 2025 berasal dari energy air hanya sebesar 14.516 MW. Tapi sebelum mencapai tahun 2025, penyediaan listrik di Indonesia masih tergolong rendah. Secara nasional, rasio elektrifikasi baru mencapai 66 % (ESDM,2009) artinya baru sekitar 66 % penduduk Indonesia menikmati energy listrik dan Jawa Barat yang berpenduduk seperlima dari total penduduk Indonesia baru 64 %nya  menikmati energy listrik. Salah satu alasan yang sering mengemuka adalah lokasi pedesaan yang tersebar dengan kondisi geografis yang tidak mendukung serta sebaran penduduk yang tidak merata menyebabkan pembangunan infrastruktur listrik tidak efektif. Dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) bisa menjadi solusi bagi daerah pelosok yang mempunyai sumber daya ala...