Skip to main content

Ancaman Bahaya Pembangunan Giant Sea Wall

Teluk Jakarta dengan latar pembangunan. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Indonesia Maritime Institute, Teluk Jakarta ibarat tong sampah yang menampung limbah rumah tangga dan limbah industri yang dibawa bersama 13 aliran sungai yang bermuara di Teluk Jakarta. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler)


Peneliti pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dan Institut Teknologi Bandung menilai rencana pemerintah membangun tanggul laut raksasa Jakarta sia-sia. Bahkan, justru hanya akan merugikan negara karena dampak buruknya terhadap ekologi.

Ketua Kelompok Teknik Kelautan Institut Teknologi Bandung (ITB) Muslim Muin, Minggu (5/10), mengatakan, Jakarta tidak perlu tanggul laut raksasa. Tidak ada banjir dan badai besar dari laut seperti halnya badai Katrina di Amerika Serikat.

”Kalaupun terjadi rob, lebih disebabkan penurunan muka tanah, bukan kenaikan muka air laut,” ujarnya. ”Kawasan Pluit kebanjiran karena dibangun di tanah lunak. Kalau tanah ambles, cukup Pluit yang ditanggul. Menanggul di seluruh mulut Teluk Jakarta berkedalaman 20 meter jelas menghamburkan uang negara sangat besar.”

Muslim mengatakan, proyek tanggul laut raksasa (giant sea wall) itu proyek peninggalan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo atas usulan konsultan Belanda. Awalnya disebut Sea Dike Plan Tahap III dan dibangun 2020-2030. Sesuai permintaan Gubernur DKI Jakarta yang baru, Joko Widodo, Menko Perekonomian setuju mempercepat ide itu langsung pada tahap III tanpa melalui tahap I dan II.

Belakangan, Menko Perekonomian Chairul Tanjung mengatakan, pemasangan pancang proyeknya 9 Oktober 2014. Selain mengantisipasi banjir, pembangunan tanggul diikuti pengembangan daerah baru melalui reklamasi

”Kalau alasannya untuk reklamasi, mungkin juga. Namun, kalau untuk mencegah bencana, itu jelas salah kaprah,” kata Muslim. Sebaliknya, menurut dia, proyek itu mengundang bencana baru.

”Tanggul laut raksasa akan memperparah banjir di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang,” katanya. Tanggul laut akan menutup alur 13 sungai yang sebelumnya bermuara ke Teluk Jakarta.

 Dampak lain, terjadi peningkatan laju sedimentasi karena menurunnya kecepatan aliran air. Dengan demikian, selain banjir, terjadi percepatan pendangkalan sungai yang perlu biaya besar untuk pengerukan rutin.

Dampak lingkungan
Senada dengan Muslim, ahli kelautan pada Badan Pengkajian Dinamika Pantai-Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPDP-BPPT), Widjo Kongko, mengatakan, dampak proyek itu terhadap lingkungan akan sangat besar. ”Ditemukan setelah BPDP melakukan simulasi dan pemodelan,” ucapnya.

Hasil kajian, pembangunan tanggul menaikkan muka air laut rerata di dalam tanggul hingga 0,5-1 meter setelah 14 hari simulasi pada dua skenario pada dua musim ekstrem. Arus air di dalam tanggul juga akan mengecil. Dampaknya, kualitas air di dalam tanggul akan memburuk secara progresif.

Itu ditandai perubahan signifikan parameter lingkungan, seperti kenaikan biological oxygen demand (BOD) lebih dari 100 persen, penurunan dissolved oxygen (DO) lebih dari 20 persen, dan penurunan salinitas air lebih dari 3 persen.

 Pembangunan tanggul ini, menurut Widjo, juga akan berpengaruh sangat signifikan terhadap pola hidrodinamika, transpor sedimen, dan penurunan kualitas air di dalam tanggul. ”Intinya, kami menentang proyek ini jika belum memenuhi syarat kajian lebih detail penanganan dampaknya,” tuturnya.

Menurut Muslim, selain terhadap lingkungan, dampak lain pembangunan tanggul adalah penutupan dua pelabuhan perikanan Nusantara. Ribuan nelayan harus dipindahkan. Pembangkit listrik Muara Karang juga harus ditutup karena aliran air pendingin tidak lagi tersedia.

(Sumber: Kompas/AIK)

Comments

Popular posts from this blog

Hari Air Sedunia, Peringatan Kelangkaan Air

source : guardian.ng Berapa lama manusia bisa bertahan tanpa minum? Menurut sumber ,  ternyata manusia hanya mampu bertahan 4-7 hari, tergantung situasi. Beberapa faktor mempengaruhi,  misalnya temperatur.  Manusia yang terjebak dalam suhu dingin bisa bertahan lebih lama karena jumlah air yang dikeluarkan lebih sedikit. Sayangnya, kebutuhan akan air yang begitu vital, berbanding terbalik dengan suplai air. Khususnya dari PDAM,  pihak yang mendapat mandat menyediakan air bersih pada warga masyarakat. Saya misalnya, sering harus begadang karena air dari PDAM baru mengalir pukul 22.00 hingga pukul 2.00 dini hari. Padahal saya sudah ngomel panjang pendek melalui salah satu group facebook yang menfasilitasi keluhan warga Bandung.  Feedback hanya sekedar menanyakan nomor langganan, kemudian senyap. #Duh. Situasi ini membuat saya bertanya: “Bagaimana 10 tahun mendatang? Juga bagaimana kabar air dari kota-kota lain? Saya mengetik “warga mengel...

Ooho, Kemasan Air Minum Yang Bisa Dimakan

Selain tidak efisien, air dalam kemasan menyisakan limbah plastik yang tidak ramah lingkungan. Hal ini meresahkan banyak pihak. Karenanya banyak orang mencari wadah alternatif untuk menampung air. Ooho , salah satu wadah yang lentur dan bisa mengikuti ruang tempatnya ditaruh, tetapi juga dapat dimakan! Ooho adalah temuan inovatif yang terbuat dari lapisan membran tipis yang dapat dimakan. Teknik pembuatannya dengan cara spherifikasi. Teknik gastronomi molekular, suatu cairan yang dijatuhkan ke dalam larutan alginat, yang kemudian membentuk gel pelindung di sekitar cairan tersebut. Ooho juga dibuat dengan brown algae dan kalsium klorida. Teknik ini sebenarnya sudah diperkenalkan pada tahun 1946 oleh Ferran Adria di Barcelona, Spanyol. Pada waktu itu, dari teknik ini ia membuat zaitun yang berbentuk bulat dan sampai sekarang dapat ditemukan pada banyak restoran dari berbagai negara. “Saat ini manusia selalu membuat botol plastik, 80% dari plastik tersebut ternyat...

Mikrohidro, Menunggu Dilirik dan Dimanfaatkan

Indonesia  memiliki potensi air danau dan sungai yang jika seluruhnya dikonversi menjadi energy listrik akan setara dengan 70 GW, tetapi baru sekitar 6 % atau 4,2 GW yang di kelola sedangkan target bauran energy Indonesia pada tahun 2025 berasal dari energy air hanya sebesar 14.516 MW. Tapi sebelum mencapai tahun 2025, penyediaan listrik di Indonesia masih tergolong rendah. Secara nasional, rasio elektrifikasi baru mencapai 66 % (ESDM,2009) artinya baru sekitar 66 % penduduk Indonesia menikmati energy listrik dan Jawa Barat yang berpenduduk seperlima dari total penduduk Indonesia baru 64 %nya  menikmati energy listrik. Salah satu alasan yang sering mengemuka adalah lokasi pedesaan yang tersebar dengan kondisi geografis yang tidak mendukung serta sebaran penduduk yang tidak merata menyebabkan pembangunan infrastruktur listrik tidak efektif. Dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) bisa menjadi solusi bagi daerah pelosok yang mempunyai sumber daya ala...